Kamis, 06 Desember 2018

GROW DAN RAKSASA BUTO


GROW DAN RAKSASA BUTO



Dahulu kala ada seorang anak yang bernama Grow. Grow senang sekali bermain disekitar hutan yang berada di belakang rumahnya. Grow tak tahu bahwa di dalam hutan tersebut ada raksasa yang terkenal jahat. Tetapi grow tetap berjalan memasuki hutan tersebut. Setelah beberapa menit grow memasuki hutan tersebut, grow melihat sesosok raksasa tetapi grow tidak takut dan semakin mendekati raksasa yang sedang terlelap tidur.
Setelah sampai disamping sesosok raksasa tersebut, grow memukulnya agar raksasa tersebut bangun dari tidur lelapnya itu. Tak lama kemudian raksasa itu bangun dan marah kepada grow.
 Grow ketakutan dan akhirnya menanggis “hiks hiks hiks”
Grow berbicara kepada raksasa tersebut!
Grow : “ kenapa kau membuat ku takut? Apa salahku? (grow bertanya kepada raksasa itu)
Raksasa : “karna kau telah menggangu tidur ku”
Grow : “aku ingin bermain dengan mu raksasa baik”
Raksasa : “aku adalah raksasa jahat”
Grow : “tidak! Kau tidak jahat, kau adalah raksasa baik. Karna kau adalah teman ku mulai saat ini”
(seketika itu raksasa terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh grow)
Raksasa : “Aku baik? Baru kali ini ada manusia yang bilang aku baik, (raksasa terharu dan matanya pun berkaca)
Grow : “iya kau baik karna kau adalah teman ku. Namaku Grow. Dan nama kau siapa raksasa baik?” (grow mulai menghapus air matanya dan menjulurkan tangannya yg mungil itu)
Raksasa : (raksasa pun menjulurkan jari nya yang besar itu) “namaku adalah Raksasa Buto. Maukah kau bermain dengan ku grow ? karna selama ini tidak ada yang ingin bermain denganku!”
Grow ; “ayo aku mau bermain dengan mu raksasa”
Setelah itu mereka bermain bersama, bercanda tawa, bersuka ria dan si raksasa tersebut membuat lelucon yang amat disukai oleh Grow.
Raksasa : “Grow berapakah hidung?”
(grow menjawab) “hidungku ada 1”
Raksasa : “salah! Bukan 1”
Grow : “ lalu, kalau bukan 1 berapa hidungku?”
Raksasa : (raksasa berkata) “hidung ada 2”
 seketika itu grow tertawa ( ha....ha...ha...)
Grow :” kok bisa?
Raksasa : “karna aku hanya bertanya berapa hidung? Karna disini hanya ada kita berdua maka dari itu ada 2 hidung, yaitu hidungku dan hidungmu” (raksasa pun tertawa terbahak-bahak haaa..........haaa.....haaa....)
Tak terasa hari semakin larut, dan akhrinya raksasa buto mengantarkan si grow sampai ke ujung hutan yang dilalui grow tersebut. Akhirnya mereka berpisah setelah bermain bersama-sama.
~TheEnd~

Sabtu, 25 November 2017

PENGERTIAN STATISTIK DESKRIPTIF DAN STATISTIK INFERENSIA

 Hendra Setya Raharja | April 29, 2017 | 

Banyak yang berpikiran bahwa statistika adalah ilmu yang sangat rumit, sulit dipahami dan memiliki penjabaran yang sangat luas. Mungkin anda juga akan berpikir demikian. Sebenarnya ilmu statistik atau statistika tidak sesulit itu. Jika berurusan dengan statistika maka anda pasti berurusan dengan istilah peluang sampel dan Populasi. 
Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa kita harus belajar statistika jika begitu rumit? Jawaban yang paling masuk akal dan beralasan adalah masalah ilmiah. Kita bisa saja berargumen namun permasalahan akan sering muncul ketika Anda diminta untuk mempertanggungjawabkan argumen yang anda sampaikan. Pertanggungjawaban yang dimaksud bukan menjawab pertanyaan yang menanyakan kebenaran argumen anda dengan jawaban yang juga berupa argumen.
Metode statistik diartikan sebagai prosedur-prosedur ilmiah dalam penelitian yang mencakup pengumpulan data, penyajian data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. 
Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa statistika tidak sesulit yang dibayangkan. Yang melekat dalam istilah statistika adalah sistematis, ilmiah, mengikuti kaidah kaidah yang telah ditetapkan, serta dapat dipertanggungjawabkan. 
Secara umum metode-metode statistika tersebut dapat kita kelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensia. Secara singkat statistik deskriptif bisa saya sebut sebagai metode statistika yang bersifat sederhana dan statistik inferensia bisa saya sebut sebagai metode yang lebih komplek

PENGERTIAN STATISTIK DESKRIPTIF Statistik deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan Penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. (Ronald E. walpole) Baca Juga: Cara menghitung nilai rata-rata dalam statistika Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa statistik deskriptif adalah metode yang sangat sederhana. Metode ini hanya mendeskripsikan kondisi dari data yang sudah anda miliki Dan menyajikannya dalam bentuk tabel diagram grafik dan bentuk lainnya yang disajikan dalam uraian-uraian singkat dan terbatas. Bisa anda bayangkan jika anda telah menyajikan data dalam bentuk tabel grafik kemungkinan anda akan berharap dapat melakukan penarikan kesimpulan yang lebih besar terhadap kelompok data yang lebih besar. Dengan pertimbangan akurasi dan validitas anda tidak dapat melakukan penarikan kesimpulan dengan metode statistik deskriptif ini. Mempertimbangkan kebutuhan tersebut, sehingga kita membutuhkan metode yang lebih kompleks yang dapat membantu kita untuk melakukan estimasi dan penarikan kesimpulan. Metode tersebut disebut sebagai statistik inferensia. 

PENGERTIAN STATISTIK INFERENSIA Statistik inferensia adalah sebuah sebuah metode yang dapat digunakan untuk menganalisis kelompok kecil data dari data induknya (sample yang diambil dari populasi) sampai pada peramalan dan penarikan kesimpulan terhadap kelompok data induknya atau populasi. PERBEDAAN ANTARA STATISTIK DESKRIPTIF DAN STATISTIK INFERENSIA Dari definisi diatas dapat kita lihat bahwa perbedaan antara statistik deskriptif dan statistik inferensia Cukup jelas. Statistik deskriptif hanya terbatas dalam menyajikan data dalam bentuk tabel, diagram, grafik, dan besaran lain, sedangkan statistik inferensial selain mencakup statistik deskriptif juga dapat digunakan untuk melakukan estimasi dan penarikan kesimpulan terhadap populasi dari sampelnya

Kamis, 23 November 2017

Pengertian Kurikulum, Fungsi, Tujuan dan Komponenya

Banyak para ahli yang mendefinisikan pengertian kurikulum. Ada juga fungsi dan komponennya yang mungkin teman-teman belum mengetahuinya. Dalam pengertian kurikulum. Secara umum, Pengertian kurikulum adalah seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar. Secara etimologis, kurikulum berasal dari istilah curriculum dimana dalam bahasa inggris, kurikulum adalah rencana pelajaran. Curriculum berasal dari bahasa latin yaitu currere, kata currere memiliki banyak arti yaitu berlari cepat, maju dengan cepat, menjalani dan berusaha untuk. Dalam bahasa arab, kurikulum disebut dengan manhaj yang berarti jalan yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan, dalam pengertian kurikulum pendidikan bahasa arab yang dikenal dengan istilah manhaj al-dirasah yang jika dilihat artinya pada kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan sebagai acuan lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. Dalam pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pendapatnya dalam memberikan gambaran berupa definisi-definisi pengertian kurikulum seperti yang dapat dilihat dibawah ini... Pengertian Kurikulum Menurut Definisi Para Ahli - Pengertian kurikulum menurut definisi Kerr, J.F (1968) adalah semua pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara individu ataupun berkelompok, baik disekolah maupun diluar sekolah. Pengertian kurikulum menurut definisi Inlow (1966), mengemukakan pendapatnya bahwa pengertian kurikulum adalah usaha menyeluruh yang dirancang khusus oleh pihak sekolah guna membimbing murid untuk memperoleh hasil dari pembelajaran yang sudah ditentukan. Menurut definisi Neagley dan Evans (1967), pengertian kurikulum adalah semua pengalaman yang telah dirancang oleh pihak sekolah. Menurut pendapat Beauchamp (1968), pengertian kurikulum adalah dokumen tertulis yang kandungannya berisi mata pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik dengan melalui berbagai mata pelajaran, pilihan disiplin ilmu, rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian kurikulum menurut definisi Good V.Carter (1973), mengemukakan pendapatnya bahwa pengertian kurikulum adalah kumpulan kursus ataupun urutan pembelajaran yang sistematik. Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pengertian kurikulum menurut definisi Murray Print yang mengemukakan pendapatnya bahwa pengertian kurikulum adalah sebuah ruang pembelajaran yang terencana, yang diberikan secara langsung kepada siswa oleh sebuah lembaga pendidikan dan pengalaman yang dapat dinikmati oleh semua siswa pada saat kurikulum diterapkan. Dari Pengertian Kurikulum secara umum dan pengertian kurikulum menurut definisi para ahli dapat disimpulkan bahwa dari penjelasan diatas tentang pengertian kurikulum sangatlah fundamental yang menggambarkan fungsi kurikulum yang sesungguhnya dalam sebuah proses pendidikan. Dalam perkembangannya, sejarah indonesia mengenai kurikulum telah berganti-ganti antara lain sebagai berikut... Tahun 1947- Leer Plan (Rencana Pelajaran) Tahun 1952 - Rencana Pelajaran Terurai Tahun 1964 - Renthjana Pendidikan Tahun 1968 - Kurikulum 1968 Tahun 1975 - Kurikulum 1975 Tahun 1984 - Kurikulum 1984 Tahun 1994 - dan Kurikulum 1999 - Kurikulum 1994 dan Sublemen Kurikulum 1999 Tahun 2004- Kurikulum Berbasis Kompetensi Tahun 2006- Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2013- Kurikulum 2013. Fungsi Kurikulum - Kurikulum sebagai alat dalam pendidikan memiliki berbagai macam fungsi dalam pendidikan yang sangat berperan dalam kegunannya. Fungsi Kurikulum adalah sebagai berikut... Advertisement Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function) : Kurikulum berfungsi sebagai penyesuain adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dilingkungannya karna lingkungan bersifat dinamis artinya dapat berubah-ubah. Fungsi Integrasi (the integrating function) : Kurikulum berfungsi sebagai penyesuain mengandung makna bahwa kurikulum merupakan alat pendidikan yang mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utut yang dapat dibutuhkan dan berintegrasi di masyarakat. Fungsi Diferensiasi (the diferentiating function) : Kurikulum berfungsi sebagai diferensiansi adalah sebagai alat yang memberikan pelayanan dari berbagai perbedaan disetiap siswa yang harus dihargai dan dilayani. Fungsi Persiapan (the propaeduetic function) : Kurikulum berfungsi sebagai persiapan yang mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan mampu mempersiapkan siswa kejenjang selanjutnya dan juga dapat mempersiapkan diri dapat hidup dalam masyarakat, jika tidak melanjukan pendidikan. Fungsi Pemilihan (the selective function) : Kurikulum berfungsi sebagai pemilihan adalah memberikan kesempatan bagi siswa untuk menentukan pilihan program belajar yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Fungsi Diagnostik (the diagnostic function) : Kurikulum sebagai diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum adalah alat pendidikan yang mampu mengarahkan dan memahami potensi siswa serta kelemahan dalam dirinya. Jika telah memahami potensi dan mengetahui kelemahannya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi dan memperbaiki kelemahannya. Komponen Kurikulum - Kurikulum mempunyai 4 unsur komponen yang membentuk/penyusun kurikulum. 4 Unsur komponen kurikulum adalah sebagai berikut... a. Komponen Tujuan Kurikulum merupakan suatu sistem pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan karna berhasil atau tidaknya sistem pembelajaran diukur dari banyaknya tujuan-tujuan yang tercapai. Tujuan pendidikan menurut permendiknas No. 22 Tahun 2007 pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut.. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, dan keterampilan hidup mandiri serta mengikuti pendidikan selanjutnya. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia dan keterampilan hidup mandiri serta mengikuti pendidikan selanjutnya Tujuan pendidikan menengah kejurusan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia dan keterampilan hidup mandiri serta mengikuti pendidikan selanjutnya sesuai kejurusan Tujuan pendidikan institusional adalah tujuan pendidikan yang dikembangkan di kurikuler dalam setiap mata pelajaran disekolah. b. Komponen Isi (Bahan pengajaran) Kurikulum dalam komponen isi adalah suatu yang diberikan kepada anak didik untuk bahan belajar mengajar guna mencapai tujuan. Kurikulum memiliki kriteria yang membantu perencanaan pada kurikulum. Kriteria kurikulum adalah sebagai berikut.. Sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa Mencerminkan kenyataan sosial Mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji Menunjang tercapainya tujuan pendidikan c. Komponen Strategi Kurikulum sebagai komponen strategi yang merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan dalam proses belajar mengajar. Strategi dalam pembelajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam pembelajaran, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbingan dan mengatur kegiatan baik umum maupun yang sifatnya khusus. Strategi Pelaksanaan adalah pengajaran, penilaian, bimbingan, dan penyeluhan kegiatan sekolah. Tercapainya tujuan, ini diperlukan pelaksanaan yang baik dalam menghantarkan peserta didik ke tujuan tersebut yang merupakan tolak ukur dari program pembelajaran (kurikulum). d. Komponen Evaluasi Komponen evaluasi dalam kurikulum adalah memeriksa tingkat ketercapaian tujuan suatu kurikulum dalam proses dan hasil belajar peserta didik yang memiliki peranan penting dalam memberikan keputusan dari hasil evaluasi guna dalam pengembangan model kurikulum sehingga mampu mengetahui tingkat keberhasilan suatu siswa dalam mencapai tujuannya.

Selasa, 14 November 2017

Model Pembelajaran Role Playing dan Langkah-Langkahnya

Sriudin sahrudin 12:17:00 AM Model Pembelajaran, Role Playing 1. Pengertian Model pembelajaran Role Playing : Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000). Model Pebelajaran Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi. Model pembelajaran Role Playing juga dikenal dengan nama model pembelajaran Bermain Peran. Pengorganisasian kelas secara berkelompok, masing-masing kelompok memperagakan/menampilkan scenario yang telah disiapkan guru. Siswa diberi kebebasan berimprofisasi namun masih dalam batas-batas scenario dari guru. 2. Langkah-Langkah Model Role Playing Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut : Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas/memberi penilaian atas penampilan masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya. Guru memberikan kesimpulan secara umum. Evaluasi. Penutup. 3. Keunggulan Metode Role Playing Keunggulan Model Role Playing Ada beberapa keunggulan dengan menggunakan metode role playing, di antaranya adalah: Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengalaman yang menyenangkan yang sulit untuk dilupakan. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan di bahas dalam proses belajar. Kelemahan Metode Role Playing Disamping memiliki keunggulan, metode role playing juga mempunyai kelemahan, di antaranya adalah : Bermain peran memakan waktu yang banyak. Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik

Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini

Posted by Timothy | Jika ditanya kapan waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah pada saat masih usia dini. Benarkah? Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para peneliti dunia. Pada saat usia antara 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (Golden Age). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya. Nah, oleh karena itu, kita sebagai orangtua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orangtua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya dengan memukul dan memberikan tekanan yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri, minder, penakut, dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa.

Kamis, 09 November 2017

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Menurut Rusman (2008 : 205) model pembelajaran jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, hasil pembahasan itu di bawah kekelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya. Kegiatan yang dilakukan pada model pembelajaran kooperatif Jigsaw sebagai berikut: 1. Melakukan mambaca untuk menggali informasi. Siswa memeperoleh topik – topik permasalahan untuk di baca sehingga mendapatkan imformasi dari permasalahan tersebut. 2. Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatka topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicaran topik permasalahan tersebut. 3. Laporan kelompok, kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan dari hasil yang didapat dari diskusi tim ahli. 4. Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi. 5. Perhitungan sekor kelompok dan menetukan penghargaan kelompok. Sedangkan menurut Stepen, Sikes and Snapp (1978 ) yang dikutip Rusman (2008), mengemukakan langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw sebagai berikut: 1. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang sisiwa. 2. Tiap orang dalam team diberi bagian materi berbeda 3. Tiap orang dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan 4. Anggota dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub bab mereka. 5. Setelah selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka tentang sub bab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama. 6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7. Guru memberi evaluasi. 8. Penutup Oleh FADHLY. MP.d.I “Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw“ Nah itulah Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw silahkan anda pilih mana model pembelajaran yang baik untuk peserta didik.

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

Dari sisi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa ingris yaitu gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah Fuzzle, yaitu sebuah teka teki yang menyususn potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji ( jigsaw), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73), bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukanakan pendapat, dan mengelolah imformasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasii, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203).

GROW DAN RAKSASA BUTO

GROW DAN RAKSASA BUTO Dahulu kala ada seorang anak yang bernama Grow. Grow senang sekali bermain disekitar hutan yang berada di ...